September
13
Membaca
brosur sebuah sekolah membuat kening saya berkernyit. “Sekolah model apa ini?
Aneh” kata hati saya. Kontras dengan apa yang saya fikirkan, anak saya Fiqri justru
berkata, “ Saya mau bersekolah di sekolah ini!”. Banyaknya tanda tanya yang
bergelantungan di kepala, membuat saya terus menggali informasi tentang sekolah ini dan karena melihat semangat Fiqri yang tinggi akhirnya saya mengabulkan
keinginannya bersekolah di sekolah tersebut.
Tak
ada seragam putih – merah khas anak SD. Tak ada sepatu sekolah berwarna hitam
dan kaus kaki berwarna putih. Yang ada hanya siswa – siswi berpakaian bebas
layaknya pakaian mereka ketika sedang bepergian bersama orangtuanya. Kaki –
kaki mereka pun “berhias” sepatu boots. Sekolahnya seperti berada di hutan.
Kondisi
bangunan sekolah juga tak kalah aneh. Aneh karena tak berwujud seperti lazimnya
sekolah yang ada. Jika di sekolah pada umumnya berbahan baku semen dengan
polesan cat putih atau hijau ( mengikuti program CGH) maka sekolah “aneh” ini
didesain sebagai gazebo (saung) yang terbuat dari kayu ulin. Dengan oksigen yang berlimpah dari pepohonan di sekitarnya membuat paru - paru mereka terjaga kesehatannya.
Selain berstatus
sebagai sekolah aneh (menurut saya) ternyata sekolah ini termasuk juga dalam
kategori sekolah langka karena di Pulau Kalimantan Timur hanya ada 2 sekolah model
ini yaitu di Kota Balikpapan dan Kota Bontang. Sekolah ini bernama “ Sekolah
Alam”.
Tujuan
utama sekolah ini adalah untuk mencetak generasi bangsa sesuai dengan tujuan
awal penciptaan manusia, yakni sebagai khalifah
fil ardhi ( pemimpin di muka bumi).
Di sekolah ini, nilai akademis tidak menjadi hal yang paling dituntut kepada siswa - siswinya. Lantas, apa berarti mereka tidak serius dalam belajar dan tidak pintar? Tentu saja tidak. Bagaimana akan tercipta khalifah fil ardhi jika mereka tidak cerdas? Banyak orang intelek tapi tidak memiliki akhlak terpuji dan akidah yang mumpuni. Lihat saja para koruptor? Apakah mereka tidak pintar? Apakah nilai akademis mereka di bawah standar? Apakah mereka tidak pernah mengeyam pendidikan tinggi dan meraih berbagai macam gelar pendidikan?
Di sekolah ini, nilai akademis tidak menjadi hal yang paling dituntut kepada siswa - siswinya. Lantas, apa berarti mereka tidak serius dalam belajar dan tidak pintar? Tentu saja tidak. Bagaimana akan tercipta khalifah fil ardhi jika mereka tidak cerdas? Banyak orang intelek tapi tidak memiliki akhlak terpuji dan akidah yang mumpuni. Lihat saja para koruptor? Apakah mereka tidak pintar? Apakah nilai akademis mereka di bawah standar? Apakah mereka tidak pernah mengeyam pendidikan tinggi dan meraih berbagai macam gelar pendidikan?
Akhlak,
akidah dan kecerdasan disinergiskan di Sekolah Alam. Ssst..sekolah ini punya panggilan khusus lho untuk anak didiknya, bukan anak - anak, bukan murid - murid, tetapi teman - teman. Lebih nyaman didengar, bukan?
Mereka dibekali kewirausahaan melalui market day dan cooking day yang menjadi pelajaran wajib di tiap kelas (Cooking Day khusus kelas 6). Harapannya, jiwa entrepreneur tumbuh dalam diri mereka sehingga kelak mereka tidak bergantung pada lapangan pekerjaan yang tersedia namun justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan bagi orang lain. Kemampuan akademis harus ditunjang oleh lifeskill yang mumpuni.
Sekolah alam juga mempunyai kelas khusus, kelas esensi yang di dalamnya berisi anak - anak spesial (Anak Berkebutuhan Khusus). Menurut saya, sekolah biasa yang berani menerima murid luar biasa itu berarti sekolah yang berani. Karena penanganan anak - anak spesial berbeda dengan anak pada umumnnya. Guru mereka juga bukan sembarang guru. Guru mereka guru yang memiliki tingkat kesabaran tinggi dan didukung oleh ilmu psikologi. Setelah mendapatkan terapi rutin dan dinyatakan bisa bercampur baur di kelas reguler mereka pun akan dipindahkan ke kelas reguler. Disini anak - anak reguler diajarkan menghormati sesama, tidak mengejek dan mau berteman dengan anak - anak spesial.
Mereka dibekali kewirausahaan melalui market day dan cooking day yang menjadi pelajaran wajib di tiap kelas (Cooking Day khusus kelas 6). Harapannya, jiwa entrepreneur tumbuh dalam diri mereka sehingga kelak mereka tidak bergantung pada lapangan pekerjaan yang tersedia namun justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan bagi orang lain. Kemampuan akademis harus ditunjang oleh lifeskill yang mumpuni.
![]() |
Cooking Day and Market Day |
Raport
di Sekolah alam jauh berbeda dengan raport yang saya terima ketika saya masih bersekolah
dulu. Raport Sekolah Alam terdiri dari raport akademis, raport narasi, raport
tahsin dan raport assessment. “Kalau begitu tebal dong?” “ Iya!” Kalau begitu
guru – gurunya semakin repot?” “Tentu!”
Menjadi
fasilitator (sebutan untuk guru) di Sekolah alam memang begitu melelahkan.
“Mengapa?” Karena saat anak – anak pulang pukul 13.30 Wita, para fasilitator
masih harus menunggu pukul 16.00 Wita untuk bisa pulang ke rumah. “ Lho, ngapain aja?” Senin, para fasilitator
mengikuti tahsin ( belajar mengaji, termasuk menyetor hapalan surat – surat Al
- Quran). Rabu, ada acara liqo (pengkajian agama) bersama murobbi. Kamis,
agenda rapat kerja rutin bersama kepala sekolah. Jumat disibukkan dengan
kegiatan ekstrakurikuler. Kosong 1 hari di hari selasa dipergunakan untuk
membuat modul, weekly (rencana pengajaran 1 minggu), dan worksheet ( soal
latihan materi). Uyuh banar (
Banjarmasin : benar – benar capek).
Para
fasilitator saja diagendakan kegiatan tahsin dan liqo apatah lagi siswa –
siswinya. Kegiatan rutin mereka sebelum memulai pelajaran adalah opening (doa),
sholat dhuha, tahfiz (hapalan) dan tahsin. Setelah itu bel istirahat berbunyi
dan dilanjutkan dengan belajar materi pelajaran sesuai jadwal. Tak heran jika
kelas 3 saja hapalan Al – Qurannya sudah banyak.
Jika
di sekolah lain baru menerapkan kurikulum 2013 maka sekolah alam sudah lama
memakai metode pelajaran tematik yang tak hanya mengandalkan penyampaian materi
secara klasikal di papan tulis. Pelajaran disampaikan melalui games (permainan), video dan benda –
benda alam. Belajar KPK dan FPB tak lagi merumitkan. Batu, kerikil, tanah liat
dan daun bisa menjadi bahan ajar KPK, FPB dan pelajaran lainnya. Penasaran?
Buktikan saja!
Para
fasilitator pun sering mendapat pelatihan dari konsultan – konsultan
pendidikan. Seperti, Pelatihan Guru Hebat oleh Bapak Suhendi dari Bumi Manusia
Consulting. Pelatihan Assesment oleh Ibu Septriana Murdiani, Pelatihan
Social Entrepreneur oleh Ibu Tatiek Kancaniati Karimah dari Yayasan Kuntum Indonesia.
Pelatihan Al – Haq dari Bapak Syaiful Anwar.
Telah lama alam menghidupi manusia. Namun sebaliknya, kita banyak yang menzolimi alam. Alam sering dirusak demi uang melalui penebangan liar dan penambangan. Mengutip kata – kata Bapak Suhendi, “ Mengapa untuk membangun peradaban baru harus menghancurkan peradaban lama?”
Telah lama alam menghidupi manusia. Namun sebaliknya, kita banyak yang menzolimi alam. Alam sering dirusak demi uang melalui penebangan liar dan penambangan. Mengutip kata – kata Bapak Suhendi, “ Mengapa untuk membangun peradaban baru harus menghancurkan peradaban lama?”
Saat
alam marah, kita justru balik mengumpat alam karena bencana yang pada dasaranya
disebabkan oleh tamaknya manusia. Andai alam dapat berbicara dan menyampaikan
keluhannya melalui laporan ke pengadilan sudah pasti manusia serakah yang
mengorbankan kelestarian lingkungan akan menjadi terdakwa.
Di
sekolah alam, alam dijadikan sahabat. Anak – anak dibekali kecintaan terhadap
alam. Pelajaran Green Lab menjadi
sarana mengajarkan mereka menanam dan sedekah pohon sebagai amal jariyah yang
pahalanya tidak akan terputus meski penanamnya telah tiada.
Tidak mengherankan bila Sekolah Alam dikelilingi pepohonan yang hijau, asri dan sejuk. Bahkan tanaman langka khas Kalimantan, yakni anggrek hitam berhasil dikembangbiakkan oleh penanggung jawab Green Lab, Pak Herry.
Pelajaran Outbound juga berperan dalam rangka menyehatkan jasmani dan langkah terapi anak mengatasi ketakutan. Mereka ditangani oleh Pak Tatang dan Pak Arif sebagai fasilitator outbond. Apakah mereka tertinggal materi teknologi? Tentu saja tidak, karena mereka juga mendapat pelajaran TIK.
Bagaimana
dengan kegiatan belajar – mengajar di Sekolah Alam? Banyak jalan menuju ke Roma (slogan penyemangat yang sering saya
dengar meski saya bingung karena saya sendiri belum pernah ke Roma) seperti itulah cara belajar di Sekolah alam. Belajar tidak melulu di dalam kelas.
Belajar bisa dilakukan di luar kelas, di bawah pohon, di padang rumput bahkan outing ke suatu tempat yang sesuai
dengan tema pelajaran per kelas, misalnya ke pasar, pantai, industri kerajinan dan lain - lain.
Tidak mengherankan bila Sekolah Alam dikelilingi pepohonan yang hijau, asri dan sejuk. Bahkan tanaman langka khas Kalimantan, yakni anggrek hitam berhasil dikembangbiakkan oleh penanggung jawab Green Lab, Pak Herry.
Pelajaran Outbound juga berperan dalam rangka menyehatkan jasmani dan langkah terapi anak mengatasi ketakutan. Mereka ditangani oleh Pak Tatang dan Pak Arif sebagai fasilitator outbond. Apakah mereka tertinggal materi teknologi? Tentu saja tidak, karena mereka juga mendapat pelajaran TIK.
Outing ke Pasar Inpres Kebun Sayur |
KBM di Outdoor |
Untuk urusan jajan, mereka "dipagari" oleh pihak sekolah. Di kantin hanya tersedia makanan sehat, NO MSG and NO Nantrium Siklamat/Aspartam (pemanis buatan, seperti nasi goreng dan jeli. yang dibuat sendiri oleh bidang kemandirian sekolah. Tidak ada penjual makanan selain kantin sekolah. Pihak sekolah menganjurkan teman - teman untuk membawa bekal dari rumah. Sedangkan untuk makan siang disediakan oleh tim dapur sekolah yang lagi - lagi No MSG and NO Na - siklamat/Aspartam.
Dengan menciptakan suasana sekolah yang
menyenangkan tentu membuat para siswa tidak merasa jenuh, mengantuk, bosan, tidak tertekan fikiran dan perasaannya dan
dapat memahami pelajaran lebih mudah. Dan yang tak kalah penting dapat
menumbuhkan perilaku terpuji dalam diri anak baik terhadap guru, orang tua,
teman bahkan sesama makhluk hidup lainnya. Sekolah impian adalah sekolah yang bukan seperti penjara, mengurung dan mematikan masa anak - anak mereka, mengembalikan generasi bangsa ke fitrahnya sebagai pemimpin di muka bumi dengan akidah, akhlak, karakter dan nilai akademis yang selaras, serasi dan seimbang serta tidak menyakiti alam (termasuk perilaku membuang sampah di sembarang tempat). Itulah Sekolah Menyenangkan, Sekolah
Impian.
Opini
Siswa Tentang Sekolah Impian:
Kelas
I : Fiqri
Sekolah
impian itu sekolah yang ada outboundnya
dan gurunya suka senyum.
Kelas
II : Fidah
Sekolah
impian itu yang gurunya baik, belajarnya boleh sambil bermain dan
pemandangannya indah.
Kelas
III : Aisyah
Sekolah
impian itu ada permainannya, boleh mandi hujan karena bawa baju ganti setiap
hari, ada outbondnya dan banyak
pohon.
Kelas
IV : Jihad
Sekolah
impian itu yang gurunya baik, tidak sering marah – marah dan temannya baik.
Kelas
V : Zalfa
Sekolah
impian itu yang sekolahnya luas, bisa berkebun, outbond dan ada outingnya.
Kelas
Vi : Aqib
Sekolah
impian itu sekolah yang teman dan gurunya baik dan ada pelajaran IT - nya.
Opini
Fasilitator Tentang Sekolah Impian:
Ibu
Fitri ( fasilitator kelas 5 Keruing) : Sekolah impian itu sekolah yang dapat
menjawab rasa ingin tahu siswa.
Bapak
Kholis (fasilitator kelas 4 Gaharu) : Sekolah impian itu sekolah yang memiliki
sinergi yang baik antara guru dan murid serta pihak - pihak sekolah lainnya.